Seperti biasa, Angkutan Umum atau yang lebih dikenal dengan sebutan angkot selalu menjadi kenderaan andalan gw tiap kali berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti : pergi ke kantor dan pulang kantor, selain karna ongkosnya lebih manusiawi juga disebabkan karna ketidak piawaian gw dalam mengenderai sepeda motor apalagi mobil hehehe
So... di kota sekecil ini gw cuma diberi kebebasan untuk memilih dua opsi, yakni : angkot dan becak, nah seperti kata gw tadi gw memilih angkot.
Namun,
Ada sesuatu yang selama ini gw tidak suka dari para supir angkot (maaf, gw tau itu tidak semuanya) sikapnya yang terlalu arogan.
Apakah ini sudah menjadi tuntutan karna beratnya tekanan hidup? atau kerasnya debu dan polusi dijalananlah yang memaksa meraka? Entah!!!
Seperti pengalaman gw kemarin sore _Senin, 07/03/11_.
Angkot sang supir sudah "padat merayap" (kalau boleh gw pinjam istilah itu) bahkan jari tangan pun sudah tak bisa lagi disisipkan diantara deretan manusia yang berhimpitan didalammnya, tapi tetap saja sang supir seenaknya berhenti dan memaksa menumpang yang dia temui dijalan untuk menaiki angkot "padat merayapnya" itu? mau diselipkan dimana manusia manusia itu?
Penumpang berhak menolak, keselamatan dan juga kenyamanan dia butuhkan. Bukan sekedar sampai ke tujuan.
Taukah apa yang terjadi jika penumpang itu menolak untuk naik? dia _sang supir_ akan berteriak dengan lantang dan dibumbui dengan makian tajam (setajam silet!!! seperti kata Feni rose di infotainment) :
"NAIK MOBIL PRIBADI AJA KALO MAU LONGGAR, BLA...BLA...BLA..."
"NAIK MOBIL PRIBADI AJA KALO MAU LONGGAR, BLA...BLA...BLA..."
Hiks....>.<
Tau kah sang supir itu jika dibelakangnya masih banyak angkot lain, masih jauh dari kata "padat merayap", masih kosong dan sedang menitikkan keringat mencari penumpang?
Tau kah sang supir, rekan-rekan seProfesi dia juga butuh sesuap nasi untuk menyambung hidupnya dan keluarganya?
Jadi kenapa sang supir HARUS marah jika penumpang menolak?
Kenapa mereka tidak mau berbagi kepada rekan seperjuanganya?
Kemiskinan? kesulitan hidup? sesuap nasi? itu kah yang membuat kita kehilangan KASIH?
Gw tau ini hanyalah segelintir masalah kecil ditengah-tengah miskinnya etika di negeri ini, gw hanya ingin kita orang kecil saling menghargai dan saling peduli, karena mungkin etika itu harus dimulai dari bawah. Nampaknya yang diatas, yang duduk di kursi empuk, ber-jas dan berdasi sedang sibuk menjadi PARA pakar etika dan sedang disibukkan dengan sebuah pertemuan, mungkin membahas rumus baru sebuah ETIKA dan MORAL*



